top of page

2 Cara Menjawab Masalah Desainer Muda dengan Solusi Designpreneurship

Bener gak sih kita sering banget dikenalin sama hal-hal baik lebih dulu dalam sebuah pekerjaan, tapi nyatanya banyak resiko ataupun challenging tersendiri untuk bisa bertahan di industri tersebut?


Misalnya, saat kamu memutuskan menjadi freelancer desainer, katanya sih nanti bisa dapatin side income, bisa kerja fleksibel, kerjanya remote dan banyak lagi, tapi apaa iyaa? manis aja kayak gini, ga ada pahit2 nya, hmm curiga deh!!


Itu hanya bechandya ternyata, haha!!


Banyak banget problem yang akan kamu temukan saat kamu memutuskan menjadi freelancer dan menjadi designpreneurship, coba ya kita spill bareng apa aja problemnya :

  1. Di ghosting

  2. Susah nyari target market

  3. Revisi berkali-kali

  4. Sulit dapet client

  5. Desain gak sesuai brief alias briefnya berubah setiap saat.. huhuhu…


Waduh, ribet gak tuh?


Nah, Jumat kemarin (17 November 2023) HiDimas kembali lagi mengisi kelas di Kalbis Institute.


workshop offline bersama Kalbis Institute
Foto: offline workshop bersama teman-teman mahasiswa dari Kalbis Institute

Pada kelas kali ini mengajak para desainer muda untuk bisa mengubah problem yang ada menjadi benefit, gimana ya caranya:


1. Belajar Memprioritaskan Tugas

‘Kalau jadi desainer, siap-siapin mental bakalan di ghosting!’ ucap salah satu mahasiswa, ‘terus gimana caranya bisa mental aman saat digosting?’ tanyanya lagi.


Dari problem ghosting-menghosting ini bukannya kita jadi belajar dan memiliki yang namanya ‘priority management’?


Yap, skala prioritas kita saat dighosting akan terbentuk dengan sendirinya kan? tentunya kita memiliki kiat agar meminimalisir hal itu terjadi.


Dari problem ghosting ini kita juga paham dan bisa menemukan pola tersendiri untuk waktu-waktu tertentu untuk mendapatkan klien.


Misalnya kita bisa membuat desain festive pada perayaan hari besar, karena itu sangat diminati dan dicari, atau kita bisa melihat kebutuhan desain suatu perusahaan pada momennya tersendiri, seperti saat perusahaan tersebut ingin mempromosikan produk barunya. atau sering-sering baca berita dalam negri, industri apa yang lagi rame kita siapkan desain untuk promosikan industri tersebut.


2. Kita Jadi Tau Apa yang Kita Mau

Dalam memasarkan desain kita pasti membutuhkan banyak hal, mulai dari membuat desainnya, membuat video promosinya, berjuang lebih kuat supaya produk itu terlihat bagus, tapi untuk mendapatkan poinnya itu, kita kadang harus mencampurkan animasi dengan foto, ilustrasi dengan video dan masih banyak lagi.


Kadang juga kalau menurut kita udah oke, tapi masih aja gak sesuai target, masih revisi, udah revisi sekalipun masih gak sesuai sama keinginan klien, dan akhirnya itu jadi bikin kita burnout.


Terus solusi dari problem ini apa?


Yaitu kita jadi tahu apa yang kita mau dan hanya kita yang bisa merealisasikan kebutuhan tersebut.


Misalnya, untuk bisa dapetin projek desain majalah, kita jadi tahu bahwa mempromosikannya tidak sama ketika kita membidik projek desain media sosial. Mulai dari lama durasi desainnya atau kiat mendapatkan kliennya.


Kita juga bisa meminimalisir revisi-revisi dengan proses kita, yaitu misalnya, kita gak usah repot-repot sampe burnout buat ngedesain dari awal. Kita mulai dari template, dari situ kita kembangkan lagi aset desainnya untuk menjadi design yang sudah mengikuti brand dari klien kita, baik dari sisi warna, logo, font, dan identitas dari brand tersebut.s


Bisa banget beli desain kreatif yang udah ada di dalam platform terpercaya lalu memodifikasi desain tersebut sesuai dengan kebutuhan.


Setelah mendengar detail pembahasan ini, banyak mahasiswa yang menjadi open untuk terus melihat peluang dan menjadikan problem tidak melulu adalah hal yang buruk melainkan ada benefit di baliknya!


Comments


bottom of page